MODEL-MODEL
KAMPANYE
Kampanye adalah sebuah kegiatan komunikasi yang
bersifat kompleks dan beraneka segi (multifaceted). Untuk memahami bagaimana
proses berlangsungnya aktivitas kampanye, diperlukan model yang secara
deskriptif akan menggambarkan kesalingterkaitan antara berbagai aspek yang
menjadi bagian dan alur dari praktik kampanye. Model adalah representasi
suatu fenomena, baik nyata ataupun abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur
terpenting fenomena tersebut (Mulyana, 2000).
1. Model
Kompensial Kampanye ( Componential Campaign Model )
Model ini digagas oleh berbagai ahli kampanye dengan
menggunakan kerangka kerja Lasswell (Lasswellian Framework) sebagai acuannya.
Model ini mengambil komponen-komponen pokok yang terdapat dalam suatu proses
pengiriman dan penerimaan pesan-pesan kampanye. Unsur-unsur yang terdapat di
dalamnya meliputi sumber kampanye, saluran, pesan, penerima kampanye, efek,
umpan balik, dan gangguan. Unsur-unsur tersebut harus dipandang sebagai satu
kesatuan yang mendeskripsikan dinamika proses kampanye.
2. Model
proses Pengaruh Kampanye
Model yang dalam bahasa aslinya dinamai model of
campaign influence process, memiliki kedekatan konseptual dengan model
komponensial kampanye. Penggagas model ini tidak diketahui pasti. Umumnya, ahli
kampanye mengaitkan model ini dengan Denis McQuail, seorang ahli komunikasi massa
berkebangsaan Belanda. Model ini menekankan aspek proses pelaksanaan kampanye
dengan fokus pada capaian efek.
Menurut model ini, strategi kampanye harus
mempertimbangkan enam aspek yang sangat menentukan keberhasilan kampanye, yaitu
aspek sumber atau penyelenggara kampanye, aspek saluran, aspek pesan kampanye,
aspek perangkat penyaringan, aspek variable public react, dan aspek efek
kampanye.
Model yang dalam bahasa aslinya dinamai model of
campaign influence process, memiliki kedekatan konseptual dengan model
komponensial kampanye. Penggagas model ini tidak diketahui pasti. Umumnya, ahli
kampanye mengaitkan model ini dengan Denis McQuail, seorang ahli komunikasi
massa berkebangsaan Belanda. Model ini menekankan aspek proses pelaksanaan
kampanye dengan fokus pada capaian efek.
Menurut model ini, strategi kampanye harus
mempertimbangkan enam aspek yang sangat menentukan keberhasilan kampanye, yaitu
aspek sumber atau penyelenggara kampanye, aspek saluran, aspek pesan kampanye,
aspek perangkat penyaringan, aspek variable public react, dan aspek efek
kampanye.
3. Model
Kampanye Ostergaard
Model ini dikembangkan oleh Leon Ostergaard, seorang
teoretikus dan praktisi kampanye kawakan dari Jerman (Klingemann, 2002). Model
yang diciptakannya ini tidak muncul dari atas meja, tetapi dari pengalaman
praktik lapangan. Di antara berbagai model kampanye yang ada, model ini
dianggap yang paling pekat sentuhan ilmiahnya. Hal ini bisa dilihat dari
kata-kata kunci yang digunakan di dalamnya.
Menurut Ostergaard, sebuah rancangan program kampanye
untuk perubahan sosial yang tidak didukung oleh temuan-temuan ilmiah tidak
layak untuk dilaksanakan. Karena program semacam itu tidak akan menimbulkan
efek apapun dalam menganggulangi masalah sosial yang dihadapi.
4. The
Communicative Function Model
Judith Trent dan Robert Friedenberg adalah praktisi
sekaligus pengamat kampanye politik di Amerika Serikat. Dalam bukunya yang
berjudul Political Campaign Communication, mereka merumuskan sebuah model
kampanye yang dikonstruksi dari lingkungan politik. Sebagaimana model yang
dikembangan Tim Yale University, model ini juga memusatkan analisisnya pada
tahapan kegiatan kampanye.
5. The
Five Functional Stages Development Model
Fokus model ini adalah pada tahapan kegiatan kampanye,
bukan pada pertukaran pesan antara campaigner dan campaignee.
Tahap identifikasi, merupakan tahap penciptaan
identitas kampanye yang dengan mudah dapat dikenali oleh khalayak.
Tahap berikutnya adalah legitimasi. Dalam kampanye
politik, legitimasi diperoleh ketika seseorang telah masuk dalam daftar
kandidat anggota legislative, atau seorang kandidat presiden memperoleh
dukungan yang kuat dalam polling yang dilakukan lembaga independen. Pada
kampanye produk, legitimasi seringkali ditunjukkan melalui testimony.
Tahap ketiga adalah partisipasi, tahap ini dalam
praktiknya relative sulit dibedakan dengan tahap legitimasi karena
ketika seorang kandidat, produk atau gagasan mendapatkan legitimasi, pada saat
yang sama dukungan yang bersifat partisipatif mengalir dari khalayak.
Tahap keempat adalah penetrasi, pada tahap ini seorang
kandidat sebuah produk atau sebuah gagasan telah hadir dan mendapat tempat di
hati masyarakat.
Terakhir adalah tahap distribusi, pada tahap ini
tujuan kampanye pada umumnya telah tercapai.
6. Model Kampanye Nowak
dan Warneryd
Pada model ini, proses kampanye dimulai dari tujuan
yang hendak dicapai dan diakhiri dengan efek yang diperoleh. Pada model
Nowak dan Warneryd, terdapat delapan elemen kampanye yang harus diperhatikan,
yaitu :
1. Intended Effect (efek yang diharapkan)
2. Competing Communication (persaingan
komunikasi)
3. Communication Object (objek komunikasi)
4. Target Population & Receiving
Group (populasi target dan kelompok penerima)
5. The Channel (saluran)
6. The Message (pesan)
7. The Communicator/Sender (komunikator/pengirim
pesan)
8. The Obtained Effect (efek yang dicapai)
7. The Diffusion of
Inovation Model
Model ini diterapkan dalam kampanye iklan (commercial
campaign) dan kampanye yang berorientasi pada perubahan sosial (social change
campaign). Penggagasnya adalah Everett M. Rogers, ia menggambarkan 4 tahap yang
terjadi ketika proses kampanye berlangsung yaitu :
-informasi,
-persuasi,
-keputusan penerimaan percobaan,
-konfirmasi evaluasi.
8. Model Kampanye Komunikasi Kesehatan Strategis
Model ini muncul dari praktik komunikasi kesehatan,
khususnya yang berfokus pada promosi kesehatan, yakni tindakan komunikasi yang
dirancang untuk memengaruhi khalayak dalam menerima dan menjalani pola hidup sehat.
Model ini dikemukakan oleh E.W. Maibach, G.L. Kreps, dan E.W. Bonaguro pada
1993, dikembangkan dari hasil riset mereka dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS
di Amerika Serikat.
9. Model Kampanye Nowak dan Warneryd
Menurut McQuail & Windahl (1993), model kampanye
Nowak dan Warneryd merupakan salah satu contoh model kampanye tradisional. Pada
model ini, proses kampanye dimulai dari tujuan yang hendak dicapai dan diakhiri
dengan efek yang diperoleh.
Pada model Nowak dan Warneryd, terdapat delapan elemen
kampanye yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Intended Effect (efek yang diharapkan)
2. Competing Communication (persaingan komunikasi)
3. Communication Object (objek komunikasi)
4. Target Population & Receiving Group (populasi
target dan kelompok penerima)
5. The Channel (saluran)
6. The Message (pesan)
7. The Communicator/Sender (komunikator/pengirim
pesan)
8. The Obtained Effect (efek yang dicapai)
The Diffusion of Innovation Model
Model ini umumnya diterapkan dalam kampanye periklanan
dan kampanye yang berorientasi pada perubahan sosial. Penggagasnya adalah
ilmuan komunikasi ternama, Everett M. Rogers. Dalam model ini, Rogers
menggambarkan adanya empat tahap yang akan terjadi ketika proses kampanye
berlangsung. (Larson, 1993). Empat tahap tersebut adalah tahap informasi,
persuasi, membuat keputusan untuk mencoba dan tahap konfirmasi atau reevaluasi.
10. Model Komponen dan Tahapan Kampanye Simon
Model ini dikemukakan pakar kampanye Amerika, Hibert
Simon. Dalam model ini, Simon secara terperinci menjelaskan tahapan serta
aspek-aspek yang umumnya hadir dalam aktivitas kampanye (Raymond S. Ross,
2001).
Dalam model ini, Simon membagi tahapan kampanye
menjadi lima bagian, antara lain planning, mobilization, legitimation,
promotion dan activation.
11. Model Manajemen Kampanye (Campaign
Management Model)
Penulis mengonstruksi model ini pada 2015 (Venus,
2015) setelah memadukan hasil-hasil riset kampanye kuantitatif dan kualitatif
secara kumulatif teori-teori kampanye, terutama yang digagas oleh Kami J. Silk
(Littlejohn, 2009), dan akumulasi pengalaman model ini dapat disebut sebagai
model integratif yuang memadukan pendekatan teoritis dan praktis. Penulis
menyebut model ini sebagai model manajemen kampanye karena di dalamnya terkandung
lima elemen PPIME (manajemen yang penting, yakni perencanaan, pengembangan,
implementasi, monitoring, dan evaluasi).
Comments
Post a Comment